Rudat.01-2-300x200

Kesenian Rudat

Rudat.Rasanya mendengar kata RUDAT sudah tidak asing lagi di telinga para urang Subang Kuningan Jawa barat. Memang, kesenian RUDAT tidak hanya dikenal di wilayah Kuningan saja, RUDAT juga dikenal di wilayah Mataram Lombok.

Kesenian “RUDAT” Juga merupakan salah satu kesenian khas desa Subang Kec. Subang Kab. Kuningan . Awal kisah tarian RUDAT ini diperkenalkan oleh penduduk subang yang menuntut ilmu agama Islam di pesantren Kuningan, sepulangnya mereka dari menuntut ilmu disana mereka juga memperkenalkan kesenian tari ini kepada warga Subang. Mungkin kesenian ini menyebar lewat penyebaran Agama Islam di Nusantara Khususnya dari jalur Kerajaan Mataram islam, lalu menyebar ke Cirebon dan kuningan.

Umumnya rudat yang biasa dipentaskan di wilayah Kuningan adalah rudat “nangtung” atau berdiri. Namun di daerah subang sendiri, rudat duduk lebih sering dipentaskan.Dalam perkembangannya Kesenian Rudat ini sempat mendapat tempat di hati masyarakat Subang dan sekitarnya, apalagi pada sekitar era tahun 70-80an, Rudat sempat menjadi Kesenian Favorit bagi warga masyarakat subang, bahkan pada saat itu semua kalangan sangat menyukai Rudat, dari mulai anak-anak, remaja Hingga orang Tua, hampir setiap ada peringatan hari besar keagamaan, di setiap Mushola-mushola yang berada di wilayah Desa Subang, mengadakan Kesenian Rudat. pada peringatan Isra Mi’raj misalnya, Kesenian Rudat ini selalu dilaksanakan, dan pada Isra Mi’raj di Desa Subang juga punya Ciri Khas, yaitu dengan disajikannya “WEDANG KONENG“, Papais, Buras , opak, simpring, ranginang dan semacamnya

Biasanya durasi Rudat duduk lebih lama daripada rudat berdiri. Sekilas, rudat duduk terlihat seperti tari Saman dari aceh, namun tarian rudat duduk ini gerakannya lebih mirip pencak silat. Rudat duduk biasanya dipentaskan semalam suntuk. Bahkan menurut cerita sesepuh di kampung, sebelum ada orang yang memikul besek untuk pergi berjualan di pasar (waktu sekitar jam 4/Tahrim), rudat belum boleh berhenti. Pada masa itu pula, seluruh pemuda dan anak-anak diharuskan untuk belajar kesenian ini. , Kesnian Rudat ini dilengkapi dengan seperangkat alat musik tabuh, yaitu “Genjring yang dimainkan oleh 4 orang dan 1 buah Jidor(beduk kecil)” dan disertai dengan Alunan puji2an dari kitab AL-BARJANJI yang dilantunkan oleh para penabuh dan pemain rudat, awalnya Rudat ini dimainkan “DUA BABAK” yaitu babak pertama Rudat dengan posisi duduk, dan babak kedua yaitu “RUDAT NANGTUNG” (Rudat dengan posisi berdiri). Namun, kini rudat hanya memainkan Rudat Duduk saja.

Pada tahun 70-80an di desa subang sediri semua blok atau kampung memiliki grup penabuh rudat tersendiri. Seperti Grup Paleben, Tarikolot, Sukasari, Bulakcaringin, Doyong, dan Jati. Sehingga pada zaman itu diadakan kompetisi Rudat antar blok tiap menjelang maulid Nabi Muhammad SAW yang menjadi ajang gengsi antar blok. Namun seiring berjalannya waktu dan arus westernisasi, kini hanya tinggal tersisa Grup Paleben, Doyong/sukasari, dan Tarikolot saja yang masih memiliki grup penabuh. Dan Grup Paleben lah yang memang paling kompak dalamal Penabuh dan penari rudatnya. Pada masa-masa tersebut, para jejaka menggunakan kesenian rudat ini untuk unjuk eksistensi diri, dan untuk menarik hati para mojang desa yang menonton.

Kegiatan Rudat biasanya diadakan saat peringatan Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Hajatan masyarakat, serta acara kepemudaan. Kegiatan Kesenian Rudat ini biasanya disetai dengan jamuan, SANGU KONENG, dan nuah yang harus ada yaitu “CAU” (Pisang), bahkan untuk menyediakan pisang ini, masyarakat menyumbang cau “Saturuy“, yang biasanya seminggu sebelum acara Maulid Nabi dilaksanakan ada acara masal “MEUYEUM CAU” atau mematangkan pisang dengan cara dikubur dalam satu lubang berukuran sekitar 1 x 1 meter lalu “diempos” atau diasapin, dan ketika acara peringatan Maulid tiba, maka babak selanjutnya adalah “Ngaludang Cau” atau membongkar pisang yang sudah matang. Sewaktu acara Maulid Nabi, penulis pun sewaktu kecil pernah berkeliling desa sambil membawakan tarian rudat nangtung. Dan sempat belajar menabuh Genjring sampai tahap bisa.

Nada genjring pun tidak sembarangan, ada 4 nada umum yang saya ingat, yaitu : KINCAR, GEJOS, TINGPANG, DAN Nada Campuran. Dalam menabuh Genjring diperlukan kekompakan antar penabuh 1-4 untuk menghasilkan irama yang enak didengar dan selaras. Fungsi dogdog/bedug kecil ialah sebagai penyeimbang nada antar genjring, biasanya kalo penabuh dogdog pandai berimprovisasi, akan terdengar variasi rudat koplo yang enak juga untuk bergoyang, sehingga para penari rudat larut dalam nada genjring. Namun di daerah Cirahayu, dikenal dengan GENJRING RAMPAK, yang mana jumlah genjring yang dipakai mencapai 20 genjring dan 2 bedug sebagai pengiring tarian rudat nangtung yang penarinya bisa mencapai 50 orang.

Ada yang menarik dari tarian rudat ini , biasanya pada akhir babak tarian rudat ini ada beberapa pemain Rudat yang “NYANDING” (Kesurupan), ini diakibatkan oleh pemain Rudat tersebut terlalu larut menikmati tarian rudat, namun ada yang menyebutkan bahwa NYANDING tersebut disengaja oleh salah seorang yang bisa memasukan “roh gaib” ke dalam pikiran si pemain (Wallahualam).

Namun dari pengamatan Penulis, Kesenian rudat kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda di Subang. Hal ini tidak lepas dari banyaknya generasi penabuh dan penari yang telah wafat, serta banyak dari generasi penerusnya yang merantau ke daerah lain, sehingga ada mata rantai yang hilang dalam generasi penerus rudat ini. Kini, rudat Nangtung diambang kepunahan. Dan rudat duduk pun gerakannya sudah tidak seasli gerakan generasi terdahulu yang lebih ke gerakan silat dalam posisi duduk.
Akankah Rudat Bisa Berjaya kembali di Kecamatan Subang ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*