makam-wirananggapati-Cibabangsalan

Raden Wirananggapati / Raden Mas Wuryah Martapura, Sang Pewaris Kerajaan Mataram Islam Yang Terbuang. Bag 1.

Kerajaan Mataram islam yang dewasa ini menjadi Yogyakarta, dahulu merupakan salah satu kerajaan terkuat setelah era kerajaan Majapahit. Bahkan kerajaan ini hampir berhasil menaklukan Batavia dan mengusir VOC dari Nusantara bila saja tidak termakan politik adu domba yang dijalankan oleh VOC.

Sultan Agung Mataram / raden mas Rangsang / raden Mas Jatmika, merupakan tokoh dibalik kejayaan kerajaan Mataram islam ini. Dia hampir menguasai seluruh pulau Jawa dibawah kesultanannya. Sultan Agung / Raden Mas Rangsang merupakan anak dari Raden Mas Jolang atau yang lebih dikenal dengan Prabu Hanyakrawati. Sementara Prabu Hanyakrawati sendiri merupakan anak dari raja pertama Mataram yaitu Panembahan Senopati / Danan Sutowijoyo.

Semasa Hidupnya, ayah sultan Agung yaitu Prabu Hanyakrawati ketika masih menjadi adipati anom ( Putera Mahkota) menikah dengan Ratu Tulung Ayu putri dari Ponorogo. Namun dari perkawinan pertamanya tersebut, Prabu Hanyakrawati tidak kunjung memiliki anak. Padahal prabu Hanyakrawati telah berjanji untuk mewariskan tahta kerajaan kepada anak dari Istri pertamanya itu.

Lalu atas saran penasihat istana, Prabu Hanyakrawati menikah lagi dengan Dyah Banowati putri dari Pangeran Benawa raja Pajang. Dyah Banowati yang kemudian bergelar Ratu Mas Hadi melahirkan Raden Mas Rangsang / Sultan Agung dan Ratu Pandansari.

Namun, Empat tahun setelah Prabu Hanyakrawati naik takhta, ternyata Ratu Tulungayu melahirkan seorang putra bernama Raden Mas Wuryah alias Adipati Martapura atau yang dikenal pula dengan sebutan Raden Wiranagapati (oleh masyarakat desa subang). Padahal saat itu jabatan adipati anom telah dipegang oleh Mas Rangsang/ sultan Agung.

Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti kisah Raden mas Jolang / Prabu Hanyakrawati sebelum dan sampai beliau wafat.

Babad Tanah Jawi mengisahkan, Raden Mas Jolang atau Panembahan Hanyakrawati adalah putra ke empat dari Panembahan Senapati dari Istri Permaisuri, Ratu Mas Waskita Jawi putri Ki Ageng Penjawi penguasa Pati. Pada 1600, Raden Mas Jolang di angkat jadi Adipati Anom oleh Panembahan Senopati (Raja Mataram ke 1) dengan penugasannya menumpas pemberontakan Adipati Pragola dari Kadipaten Pati, atau adik kandung ibunya sendiri.

Pemberontakan ini dipicu gara-gara Panembahan Senapati berpoligami menikahi Retno Dumilah putri Adipati Madiun sebagai permaisuri kedua, yang membuat Pragola marah karena menilai kedudukan politis kakaknya, Ratu Mas Waskita Jawi akan tergeser. Maka, perang tanding Mataram dengan Pati itu tidak memunculkan kemenangan siapapun, hingga Panembahan Senopati gregetan turun tangan sendiri menumpas pembelotan Adipati Pragola.

Raden Mas Jolang naik tahta bergelar Panembahan Hanyakrawati Senopati Ing Alaga menggantikan Panembahan Senopati yang wafat pada 1601, dan memerintah Mataram selama 12 tahun pada 1601-1613. Raja Mataram ke dua itu memiliki dua istri parameswari, yakni : (1) Parameswari Ratu Kulon adalah Ratu Tulung Ayu berasal dari Ponorogo yang melahirkan Raden Mas Wuryah atau Adipati Martapura atau raden Wiranagapati (menurut Masyarakat desa subang) pada 1604, dan (2) Parameswari Ratu Wetan adalah Dyah Banowati bergelar Ratu Hadi putri Adipati Benawa dari Pajang yang melahirkan Raden Mas Rangsang bergelar Adipati Anom dan Ratu Pandansari (istri Pangeran Pekik Surabaya).

Sejak awal kekuasaannya, Panembahan Hanyakrawati harus menghadapi gencarnya pemberontakan (gerakan separatis) para penguasa taklukkan Panembahan Senopati di daerah koloni kekuasaan Mataram. Pada 1602, Raden Mas Kejuron atau Pangeran Puger, adalah Adipati Demak yang mengawali pemberontakan melawan Mataram di wilayah utara Pegunungan Kendeng. Ironinya?, Pangeran Puger adalah kakak tiri Panembahan Hanyakrawati dari Istri selir Panembahan Senopati yang bernama Nyai Adisara. Walhasil, Panembahan Hanyakrawati rela membagi wilayah utara Mataram tersebut pada kakak tirinya, namun Pangeran Puger masih memberontak didukung Adipati Gending dan Adipati Panjer menuntut wilayah Demak hingga ke Tambak Uwos, Jawa Timur. Agaknya, cita-cita mengembalikan kejayaan Demak dan Dinasti Majapahit di Jawa tak tercapai. Panembahan Hanyakrawati mengakhiri aksi pemberontakan tersebut dengan mengirim Tumenggung Suranata (Ki Gede Mestaka) pada 1605, dan Pangeran Puger disantrikan ke Kudus. [Babad Momana]

Menjelang akhir pemerintahan Panembahan Hanyakrawati pada 1608, muncul lagi gerakan makar anti Mataram dipimpin Raden Mas Bathotot atau Pangeran Jayaraga yang ingin jadi Raja Jawa setelah diangkat Panembahan Hanyakrawati sebagai Adipati Ponorogo. Ternyata, masih ada lagi pengaruh tradisi poligami Panembahan Senopati dalam kasus makar Adipati Ponorogo ini? Pangeran Jayaraga adalah anak kesembilan Panembahan Senapati dengan istri selir dari Kajoran.

Berbeda pandangan politik dengan Pangeran Jayaraga, para bupati bawahan Adipati Ponorogo justru bergabung dengan Mataram, yakni Pangeran Rangga, Panji Wirabumi, Ngabehi Malang, dan Demang Nayahita. Walhasil, Panembahan Hanyakrawati segera mengutus Pangeran Pringgalaya dan Tumenggung Martalaya untuk mengakhiri pemberontakan di Ponorogo, akhir laskar Mataram unggul dan Pangeran Jayaraga kemudian diasingkan ke Masjid Watu, Pulau Nusa Kambangan. Kedua pemberontakan yang terjadi di masa pemerintahan Panembahan Hanyakrawati dilakukan justru oleh saudaranya sendiri, mengindikasikan begitu besarnya konflik suksesi dalam dinasti Mataram. Konflik tersebut tampaknya timbul akibat adanya rasa tidak puas para pangeran muda terhadap keputusan Panembahan Senopati yang memilih Raden Mas Jolang sebagai penggantinya. Akibatnya, kenaikan tahta Raden Mas Jolang mendapat penolakan juga permusuhan dari saudara-saudaranya sendiri.

Mangkatnya Panembahan Hanyakrawati Suatu Konspirasi Politik Dinasti?

Mataram, dibawah Panembahan Hanyakrawati selama 12 tahun dari 1801-1613 hanya sibuk repot mengurus berbagai pemberontakan saudara-saudaranya sendiri, nyaris tanpa sukses memperluas wilayah kekuasaannya. Dan ambisi kekuasaan berakhir seiring kematian sang Raja.

Dalam Serat Nitik Sultan Agung, Panembahan Hanyakrawati disebutkan wafat secara misterius pada malam Jum’at tanggal 1 Oktober 1613 (Babad Sengkala, 1535 Jawa). Penyebab kematian hingga kini tidak diketahui secara pasti, hanya dikisahkan, jika Panembahan Hanyakrawati meninggal karena kecelakaan akibat diserang banteng gila yang mengamuk sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak.

Sedangkan, Babad Tanah Jawi memberitakan jika Panembahan Hanyakrawati meninggal di Krapyak karena sakit parah, tanpa kejelasan apa penyakitnya? Sumber lain, Babad Mataram menyebutkan jika Panembahan Hanyakrawati tewas akibat diracun oleh Juru Taman Danalaya?, abdi kesayangan Raja sendiri! Abdi ini dikisahkan sering menimbulkan keonaran di lingkungan Kraton dengan menyamar menjadi Raja, sehingga menyesatkan para istri dan selir Raja? Kisah ini juga diintepretasikan dalam ”Suluk Wujil” berisikan wejangan mistik Kanjeng Sunan Bonang pada abdi kesayangan Raja Majapahit.

Bagaimanapun misteri kematian Raja pasti ada jawabannya,ya? Sebelumnya, Panembahan Hanyakrawati bagai telah mendapat firasat, sehingga Raja Mataram itu memanggil para pangeran dan kerabat disaksikan oleh Adipati Mandaraka, Pangeran Purbaya, berkumpul dalam pisowanan di Pendopo Prabayaksa Kraton guna menerima wasiat agar Raden Mas Rangsang diangkat menjadi Raja Mataram jika ia mangkat!

Wasiat Panembahan Hanyakrawati tersebut didasarkan pada ramalan Panembahan Bayat, penasehat spiritual Kraton, yang menyatakan bahwa Raden Mas Rangsang akan membawa kejayaan bagi Kraton Mataram dengan menguasai seluruh Jawa. Namun, sebelum menerima ramalan itu, Raja Mataram itu sebelumnya justru telah berjanji bahwa Raden Mas Wuryah (Wiranagapati) yang akan menggantikannya.

Keputusan Raja tersebut berkembang menjadi polemik karena janji politiknya sendiri pada yang akan mengangkat Raden Mas Wuryah putra Parameswari Ratu Kulon sebagai Raja Mataram, yang didukung pihak keluarga Adipati Ponorogo dan Adipati Mandarakara. Sebaliknya, Parameswari Ratu Wetan didukung keluarga Adipati Pajang dan Pangeran Purbaya juga menagih janji Panembahan Hanyakrawati yang menunjuk Raden Mas Rangsang sebagai penggantinya.

Meskipun, jika berdasar garis genealogy?, tentulah Raden Mas Wuryah sebagai anak sulung dari Istri Permaisuri pertama jelas lebih berhak menjadi Raja Mataram selanjutnya. Meninggalnya Panembahan Hanyakrawati memang terkesan terlalu cepat, mungkin juga terkait adanya konflik internal keluarga Kraton sendiri?

Penobatan Kenthol Ponorogo Sebagai Raja Sehari Mataram 1613

Raden Mas Wuryah, atau Raden Martapura [lahir di Kota Gedhe 1605, putra sulung Panembahan Hanyakrawati dari Parameswari-I Ratu Kulon sebagai putra mahkota akhirnya naik tahta menjadi Raja Mataram dengan gelar Adipati Martapura. Lalu mengapa Raja hanya bergelar Adipati? Raden Mas Wuryah di masa remajanya juga punya julukan ‘Kenthol Ponorogo’ (kemudian menjadi Panembahan Kejoran), dan adik kandungnya, Raden Mas Cakra dijuluki ‘Kenthol Kuning’ (kemudian menjadi Panembahan Bayat).

Sultan Agung

Sultan Agung

Data lain, Serat Nitik Sultan Agung menyatakan yang seharusnya jadi putra mahkota justru Raden Mas Rangsang karena usianya lebih tua dari Raden Mas Wuryah, juga sebagai putra tertua Panembahan Hanyakrawati dengan Parameswari-II Ratu Adi dari Pajang. Pengangkatan Raden Mas Martapura sebagai pejabat putra mahkota guna menghindari kekosongan pemerintahan Mataram, karena Raden Mas Rangsang sedang bepergian jauh (tidak dijelaskan kemana?). Sebagai putra sepuh di antara para pangeran, maka Raden Mas Martapura dianggap berhak mengisi kedudukan Raja didasarkan pada paugeran Kraton Jawa, bahwa putra mahkota adalah putra tertua Raja dengan Parameswari-I.

Sedangkan, kedudukan Parameswari-I dan Parameswari-II dapat digeser sesuai dengan kehendak Raja yang berkuasa. Menurut H. J. De Graaf, Raden Mas Martapura yang usianya jauh lebih muda ditunjuk menjadi putra mahkota karena terlahir ketika ayahnya sudah menjadi raja. Sedangkan, Raden Mas Rangsang lahir ketika ayahnya belum menjadi raja, bahkan belum ditunjuk menjadi putra mahkota. Hal ini dapat dilihat dari umur kedua putra raja tersebut saat Panembahan Anyakrawati meninggal? Raden Mas Martapura berumur 8 tahun, sedangkan Raden Mas Rangsang sudah berumur 20 tahun.

Dalam Babad Sengkala dikisahkan, setelah 4 hari Mangkatnya Raja, pada Senin pagi tanggal 4 Oktober 1613, Raden Mas Martapura dinobatkan jadi Raja Mataram bergelar Panembahan Adipati Martapura oleh Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya, rakyat Mataram menyambut suka-ria di Alun-alun Kraton. Dan sore harinya, Raja Baru dimohon mengadakan perjamuan rapat agung yang memuat saran Adipati Mandaraka agar Raja Baru turun tahta dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, yaitu Raden Mas Rangsang berdasarkan pesan almarhum ayahnya.

Kemudian, Panembahan Adipati Martapura turun tahta dengan dalih alasan sakit kurang ingatan? Babad Tanah Jawi memberitakan, jika pemindahan hak atas tahta itu didasari alasan Raden Mas Martapura menderita sakit ingatan musiman dan memiiki cacat fisik, padahal menurut sumber lain hal itu hanya dijadikan alasan oleh pihak keraton untuk menenangkan gejolak di masyarakat.Oleh karena hal itu pula Raden Mas Wuryah mendapat Gelar Panembahan Agung karena melaksanakan Lengser Keprabon.

Setelah penyerahan kekuasaan dilakukan, kondisi Istana penuh dengan gejolak. Di satu sisi pihak raden mas Rangsang telah sukses menjadikan beliau sebagai raja Mataram. Namun ada rasa tidak puas dari pihak Raden Mas Wuryah, yang menjadikan terjadi perang dingin antar sesama keluarga istana.

Namun, dengan kebesaran hatinya, Raden Mas Wuryah lebih memilih untuk mendekatkan diri kepada para Ulama. Lalu beliau pergi menyepi bersama para santri di Selarong. Kemudian, Raden Mas Wuryah berganti nama menjadi Pangeran Selarong-I yang menurunkan Trah Kyai Selarong dan Trah Kyai Krapyak di Yogyakarta.

Namun ada beberapa sumber lain yang menyatakan bahwa Pangeran Selarong-I diburu oleh pasukan telik sandi keraton, karena dituduh merencanakan makar terhadap kerajaan. Dan dieksekusi langsung, sementara menurut cerita, Jasadnya dipusarakan secara rahasia di gunung Pring Magelang oleh para santrinya.

Namun, keberadaan makam ini masih menjadi perdebatan, apakah betul Raden mas Wuryah yang dimakamkan, ataukah hanya penyamaran oleh para santrinya untuk menyelamatkan Raden Mas wuryah dari incaran Keraton. Sementara Raden mas Wuryah atas saran dari Ibunya untuk mengungsi ke arah barat ke wilayah kerajaan Galuh yang notabene aman dari gangguan pihak kerajaan Mataram.

Dikisahkan pula bawa Rade Mas Wuryah ( Wirananggapati) pergi ke barat dengan menelusuri anak sungai hingga sampai ke sungai Cijolang. Konon menurut orangtua dulu, raden Mas Wuryah Martapura sampai ke daerah subang dengan menggunakan jolang sebagai perahu. Namun, ada beberapa cerita lain yang mengisahkan bahwa Cijolang berasal dari nama Raden Mas Jolang yang merupakan ayah dari Raden Wirananggapati.

Ratu Tulung ayu memberikan senjata pamungkas peninggalan suaminya Prabu Hanyakrawati, yaitu Karembong Lockan untuk membekalinya sama perjalanan menuju barat. Senjata tersebut bisa menaklukan amukan hewan buas di perjalanan. Konon Ketika Prabu Hanyakrawati Tewas diseruduk Banteng, karembong tersebut tidak dibawa dan sedang dipakai untuk menggendong Raden wiranagapati yang masih bayi.

Tiba di daerah Subang, Raden Wiranagapati langsung mencari pesantren terdekat untuk menetap dan memperdalam ilmu agamanya. Sampailah beliau di pondok Kiyai Dalem Jabasraga yang berlokasi di Ciketug sekarang. Beliau meminta izin tinggal untuk menuntut ilmu agama dan belum memberitahukan identitas aslinya.

Bersambung…….

 

 

 

 

 

Sumber : Raden Wirananggapati / Raden Mas Wuryah Martapura, Sang Pewaris Kerajaan Mataram Islam Yang Terbuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*